Kejahatan Jalanan di Jawa Barat Bukan Sekadar Masalah Ekonomi, Dedi Mulyadi Ingin Kuatkan Psikologis Warga

9 hours ago 6

harapanrakyat.com,- Pemerintah Provinsi Jawa Barat turut menyiapkan langkah untuk menyikapi maraknya aksi kejahatan jalanan yang kian sadis. Kini, Pemprov Jawa Barat sedang berupaya menguatkan mental dan psikologis publik agar tidak takut terhadap aksi kriminalitas.

Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi mengatakan, pola aksi pembegalan hingga pencurian kendaraan bermotor saat ini telah mengalami pergeseran mendasar.

Mayoritas pelaku kejahatan saat ini merupakan orang di bawah usia 25 tahun yang nekat melakukan aksi kekerasan sadis di luar motif tekanan ekonomi.

Beda halnya dengan zaman dahulu, di mana rata-rata umur pelakunya 40 sampai 50 tahun dan hanya menyasar harta benda, tidak sampai melakukan pembunuhan.

“Kejahatan pembegalan hari ini motifnya bukan sekadar ekonomi, karena banyak pelakunya di bawah usia 25 tahun atau yang belum berkeluarga. Begal dulu jarang yang membunuh, hanya merebut (harta korban), dan rata-rata usia 40 sampai 50 tahun,” kata Dedi di Mapolda Jawa Barat, Jumat (7/8/2026).

Baca Juga: Perangi Tramadol dan Miras Ilegal di Jawa Barat, Dedi Mulyadi: Warung yang Jual, Bongkar!

Penanganan Kejahatan Jalanan di Jawa Barat

Dedi menilai pergeseran pola ini membutuhkan penanganan kejahatan jalanan melalui penguatan mental dan psikologi secara asimetris.

Salah satu upaya yang Dedi lakukan saat ini membuat sayembara bagi masyarakat yang berhasil menangkap pelaku kejahatan tanpa main hakim sendiri.

Ia meyakini upaya itu bisa membangun keberanian kolektif dan saling peduli di jalan raya, sehingga kelompok pelaku kejahatan tidak lagi leluasa mendominasi dan menebar ketakutan pada masyarakat.

“Selain penegakan hukum, harus membangun psikologi publik agar tidak takut. Saya buat sayembara agar tidak takut oleh begal. Harus berubah pola pikirnya, ini perang psikologi,” ujarnya.

Lebih lanjut, Dedi menambahkan, Pemprov Jawa Barat memastikan akan menjamin layanan medis bagi para korban kejahatan untuk meringankan beban psikologis dan finansial.

Sebab, jaminan kesehatan seperti BPJS Kesehatan selama ini belum bisa menanggung biaya pengobatan korban tindak kejahatan kekerasan.

“Kami biayai pengobatan korban kekerasan, penculikan, perundungan, pembegalan, hingga perampokan. Jika korbannya meninggal dunia dan meninggalkan anak istri, Gubernur Jawa Barat bertanggung jawab terhadap kehidupan mereka ke depan, termasuk sekolah anak-anaknya. Negara harus hadir menyelesaikan problem ini,” ucapnya.

Baca Juga: Tindak Tegas Knalpot Brong di Jawa Barat, Dedi Mulyadi Siapkan Knalpot Standar Gratis saat Operasi

Tekankan Kewaspadaan Warga dan Pentingnya Keselamatan Berkendara

Dedi menuturkan, selain upaya dari pemerintah maupun aparat kepolisian untuk mencegah kejahatan jalanan, masyarakat harus berperan aktif dan memiliki kesadaran yang sama.

Oleh karena itu, Dedi mengimbau warga untuk selalu memperhitungkan potensi risiko keamanan saat beraktivitas di luar rumah pada jam-jam rawan malam hari.

Selain kewaspadaan, Dedi mengingatkan pentingnya penggunaan kelengkapan keselamatan standar saat berkendara, seperti helm berstandar SNI.

Penggunaan helm ini untuk meminimalkan risiko cedera fatal akibat hantaman benda tumpul saat pengendara menghadapi aksi kejahatan di jalan raya.

Baca Juga: Dedi Mulyadi Evaluasi Dana Hibah Lima Instansi Senilai Rp662 Miliar

“Warga juga harus memperhitungkan ketika hendak bepergian malam hari. Pakai helm berstandar untuk keselamatan dan keamanan, jangan hanya karena takut ada polisi,” tuturnya. (Reza/R7/HR-Online/Editor-Ndu)

Read Entire Article
Perayaan | Berita Rakyat | | |