harapanrakyat.com,- Sejarah Candi Bima menawarkan pesona arsitektur yang sangat langka bagi wisatawan yang mengunjungi Dataran Tinggi Dieng, Jawa Tengah. Struktur batu andesit ini menyimpan rahasia akulturasi budaya India yang tidak ditemukan pada peninggalan purbakala lainnya di Indonesia.
Kemudian, situs budaya ini secara administratif menempati lokasi di Desa Dieng Kulon dengan jarak sembilan ratus meter dari Candi Arjuna. Kehadiran bangunan tunggal tersebut memperkaya dimensi arkeologis Jawa Tengah melalui gaya arsitektur yang sangat menonjol dan berbeda.
Latar Belakang Sejarah Pembangunan Candi Bima di Era Wangsa Sanjaya
Para ahli arkeologi memperkirakan proses pembangunan candi suci ini berlangsung pada periode abad ke-7 hingga abad ke-8 Masehi. Masa tersebut menandai era kejayaan Wangsa Sanjaya yang merupakan penganut setia agama Hindu aliran Syiwa di Pulau Jawa.
Seiring berjalannya waktu, masyarakat lokal memberikan nama Bima yang merujuk pada tokoh komandan tentara Pandawa yang kuat. Berdasarkan informasi, penamaan ini didasarkan pada karakter wayang dalam wiracarita Bharatayuddha yang sangat populer dan melegenda di kalangan masyarakat Jawa.
Baca juga: Sejarah Kerajaan Kediri dari Masa Emas Jayabaya Hingga Runtuh di Tangan Ken Arok
Situs ini berfungsi utama sebagai pusat pemujaan sakral kepada Dewa Siwa sebagai manifestasi pelindung kekuatan dan kebenaran. Posisi candi yang menyendiri di atas bukit menandakan fungsinya sebagai tempat pertapaan resi untuk mendekatkan diri pada kahyangan.
Sementara itu, kompleks Dieng sendiri dikenal sebagai tempat bersemayamnya para dewa, sehingga setiap bangunan dirancang dengan orientasi spiritual tinggi. Candi Bima menjadi salah satu bukti betapa pentingnya kawasan ini bagi kehidupan religius masyarakat Kerajaan Mataram Kuno waktu itu.
Berbeda dengan Candi Arjuna yang berkelompok, Candi Bima berdiri megah sendirian seolah menjaga pintu gerbang kawah alam. Kesendirian ini justru menambah aura mistis dan kewibawaan bangunan yang sejalan dengan karakter tokoh Bima yang gagah.
Keunikan Arsitektur Shikhara Gaya India Utara
Arsitektur bangunan ini mengusung denah dasar bujur sangkar dengan ukuran presisi sekitar enam kali enam meter. Namun, penampil yang menonjol pada setiap sisi membuat struktur ini tampak menyerupai bentuk segi delapan dari kejauhan.
Sedangkan dari sisi teknisnya, candi ini memperlihatkan perpaduan unik antara gaya arsitektur India Utara (Nagara) dan India Selatan (Dravida). Karakteristik langka tersebut mencerminkan hubungan budaya yang sangat dinamis antara Nusantara dengan peradaban India pada masa silam.
Desain atap candi menampilkan bentuk Shikhara yang menyerupai mangkuk terbalik atau kuncup bunga teratai yang sedang merekah. Gaya atap ini sangat identik dengan kuil-kuil di Bhubaneswar, India Utara, yang jarang diadopsi di Jawa.
Baca juga: Mengungkap Sejarah Penemuan Candi Borobudur yang Sempat Hilang Tertimbun Hutan
Struktur bagian atas ini terdiri dari lima tingkatan mendatar yang ukurannya dirancang semakin mengecil ke arah puncak. Tingkatan ini melambangkan gunung suci Mahameru yang menjadi pusat alam semesta dan tempat tinggal para dewa tertinggi.
Berpindah ke sisi lain, pengaruh gaya India Selatan terlihat jelas pada hiasan menara serta relung tubuh candi. Oleh karena itu, hiasan ratna pada bagian atas berfungsi sebagai simbol kesucian dalam kosmologi masyarakat saat itu.
Simbolisme Relief Kudu yang Menjadi Ciri Khas
Dinding candi memamerkan relief kepala manusia yang disebut kudu di dalam relung berbentuk tapal kuda yang unik. Ornamen ini menjadi ciri khas paling langka karena tidak terdapat pada bangunan candi lain di seluruh wilayah Indonesia.
Wajah-wajah kudu tersebut seolah menengok keluar dari jendela candi untuk mengawasi lingkungan sekitar dengan tatapan misterius. Hal ini memberikan kesan bahwa bangunan suci tersebut dihuni oleh roh-roh penjaga yang senantiasa waspada mengamati peziarah.
Data arkeologis mencatat bahwa semula terdapat dua puluh empat arca kudu yang menghiasi bagian atap bangunan ini. Sayangnya, saat ini hanya tersisa tiga belas arca akibat faktor usia dan kerusakan alam yang terjadi selama berabad-abad.
Baca juga: Sejarah Candi Arjuna Dieng, Ditemukan Tentara setelah Tenggelam Berabad-abad di Telaga
Spesifikasi fisik arca tersebut memiliki berat lima belas kilogram dengan tinggi mencapai dua puluh empat sentimeter. Lebarnya sekitar dua puluh sentimeter dengan ketebalan dua puluh tujuh sentimeter, menunjukkan detail pahatan andesit yang sangat halus.
Keberadaan relief ini menjadi bukti tingginya selera seni para pemahat Dieng yang mampu mengadaptasi seni asing. Mereka tidak sekadar meniru, melainkan memadukannya dengan cita rasa lokal sehingga tercipta mahakarya yang bernilai tinggi.
Lokasi Strategis dan Upaya Pemugaran Menyeluruh
Candi Bima menempati posisi strategis di atas sebuah bukit kecil yang berjarak tiga menit perjalanan dari Kawah Sikidang. Wisatawan harus menaiki sekitar tiga puluh anak tangga batu untuk mencapai area utama bangunan purbakala yang megah tersebut.
Pihak pengelola melengkapi kawasan ini dengan area parkir luas serta fasilitas pendukung seperti toilet dan tempat ibadah. Jam operasional kunjungan berlaku setiap hari mulai pukul 08.00 hingga 17.00 dengan harga tiket masuk lima belas ribu rupiah.
Baca juga: Sejarah Candi Ngetos Nganjuk, Jejak Peninggalan Kerajaan Majapahit di Jawa Timur
Pelestarian candi menghadapi tantangan berat akibat paparan gas solfatara dari Kawah Sikidang serta risiko tindakan pencurian arca. Kondisi alamiah tersebut sempat menyebabkan kerusakan struktur berupa pelapukan batu dan munculnya rongga berbahaya di bawah fondasi.
Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Jawa Tengah kemudian melaksanakan proses pemugaran menyeluruh yang dimulai pada tahun 2012 silam. Upaya perbaikan struktur dan ekskavasi arkeologi tersebut akhirnya selesai pada tahun 2014 sehingga menghasilkan penampilan yang kokoh.
Candi Bima berdiri sebagai warisan budaya lintas bangsa yang menyimpan nilai sejarah serta estetika arsitektur paling unik. Masyarakat memikul tanggung jawab besar untuk menjaga kelestarian Candi Bima sebagai bukti abadi kejayaan peradaban manusia masa lampau. (Muhafid/R6/HR-Online)

16 hours ago
10

















































