Bismarck Oloan Hutapea merupakan salah satu tokoh penting dalam sejarah PKI. Bismarck Oloan Hutapea memiliki peran besar di balik perkembangan Partai Komunis Indonesia pada dekade 1950-an hingga 1960-an. Meski tidak sepopuler D.N. Aidit atau Musso, Oloan ternyata berkontribusi dalam penyusunan gagasan partai sekaligus menempati posisi-posisi strategis.
Baca Juga: Kisah Tan Ling Djie, Petinggi PKI Keturunan Tionghoa yang Tersingkir oleh DN Aidit
Perjalanannya pun menjadi bagian krusial dari dinamika politik Indonesia pada masa lampau. Bahkan, kiprahnya masih sering masyarakat bahas dalam berbagai kajian sejarah dan politik hingga saat ini. Julukan sebagai “orang kepercayaan Aidit” hingga konfliknya di Orde Baru membuat namanya hampir tidak pernah terlupakan.
Mengenal Sosok Bismarck Oloan Hutapea
Oloan Hutapea adalah seorang tokoh berdarah Batak yang lahir pada tahun 1920. Saat muda, ia sempat mengenyam pendidikan sebagai kadet Angkatan Laut Hindia Belanda di Surabaya. Setelah itu, Oloan melanjutkan pendidikan di Batavia pada periode 1937 hingga 1940. Selama berada di Batavia, sosoknya menjalin pertemanan dengan sejumlah tokoh. Termasuk Tahi Bonar Simatupang dan Lintong Mulia Sitorus.
Pada masa pendudukan Jepang, ketiganya bahkan tinggal bersama di sebuah rumah sewaan di kawasan Tanah Tinggi. Mereka cukup aktif mengikuti berbagai diskusi yang menghadirkan tokoh-tokoh pergerakan nasional. Salah satunya Sutan Sjahrir. Selain menghadiri forum diskusi, ketiganya juga gemar mengumpulkan buku-buku yang membahas perjuangan kemerdekaan di berbagai negara. Fungsinya sebagai bahan pembelajaran politik.
Masuk ke PKI Tahun 1940-an
Dalam beberapa periode, Bismarck Oloan Hutapea mulai mengenal pemikiran komunisme melalui berbagai bacaan dari Tahi Bonar Simatupang. Walaupun kemudian memiliki pandangan politik berbeda, hubungan pertemanan mereka tetap terjalin baik. Di lingkungan pergaulan itulah Oloan mulai mengenal D.N. Aidit yang di kemudian hari menjadi pemimpin utama PKI.
Memasuki penghujung 1940-an, Oloan semakin aktif dalam aktivitas politik dan bergabung dengan generasi baru kader PKI. Kehadirannya bertepatan dengan upaya partai melakukan reorganisasi setelah mengalami kemunduran akibat Peristiwa Madiun 1948. Bersama sejumlah kader lain, Oloan menjadi bagian dari kelompok yang berupaya membangun kembali kekuatan organisasi.
Baca Juga: Sindiran Sarwo Edhie ke DN Aidit dalam Pusaran Peristiwa Supersemar 1966
Kiprah di PKI hingga Menjadi Kepercayaan Aidit
Karier politik Bismarck Oloan Hutapea berkembang cukup pesat di tubuh PKI. Kedekatannya dengan D.N. Aidit membuat ia sukses mengemban berbagai tanggung jawab penting dalam organisasi. Pada awal 1950-an, Oloan pernah mendapat tugas ke Sumatera bersama Peris Pardede. Tujuan keberangkatan adalah untuk melakukan konsolidasi organisasi sekaligus memperkuat struktur partai di daerah.
Selain menjalankan tugas politik, Oloan juga populer sebagai salah satu pemikir utama PKI. Ia masuk menjadi anggota politbiro, menyunting majalah internal partai Bintang Merah, serta menjabat direktur Akademi Aliarcham. Ini merupakan sebuah lembaga pendidikan kader PKI di Jakarta. Posisi-posisi tersebut menunjukkan bahwa Oloan bukan hanya berperan sebagai organisator, tetapi tokoh dengan kontribusi pokok.
Perubahan Situasi Politik
Pada tahun 1951, situasi politik nasional memanas. Pemerintah melakukan penangkapan terhadap sejumlah tokoh yang dianggap berhaluan kiri, termasuk Oloan Hutapea. Ia sempat menjalani masa penahanan bersama beberapa tokoh lainnya. Selama berada di kamp tahanan, Oloan tetap aktif mengorganisasi sesama tahanan. Ia melakukannya melalui kegiatan olahraga, pendidikan, serta mendorong perbaikan kondisi kehidupan di dalam kamp.
Setelah bebas, kiprahnya di PKI kembali berlanjut. Pada 1959, Bismarck Oloan Hutapea turut mendampingi D.N. Aidit dalam kunjungan ke Moskow. Saat itu keduanya menghadiri Kongres Partai Komunis Uni Soviet ke-21. Kehadirannya dalam rombongan tersebut menunjukkan tingkat kepercayaan yang Aidit berikan terhadapnya.
Bahkan, dalam berbagai tulisan di majalah Bintang Merah, Oloan terkenal memiliki pandangan ideologis tegas. Ia banyak menulis mengenai strategi perjuangan partai sekaligus menunjukkan sikap konsisten terhadap garis politik PKI. Karena perannya sebagai pemikir sekaligus organisator, D.N. Aidit kemudian menjadikannya orang kepercayaan.
Akhir Karier Oloan
Tahun demi tahun berjalan, hingga perubahan besar dalam politik Indonesia setelah peristiwa 1965 membawa dampak serius terhadap PKI. Begitu pun para tokohnya. Organisasi tersebut kehilangan ruang gerak. Sementara banyak pemimpinnya yang tertangkap atau meninggalkan aktivitas politik karena ancaman.
Dalam situasi tersebut, Oloan Hutapea masih memiliki peran dalam jaringan bawah tanah PKI. Khususnya selama masa transisi menuju pemerintahan Orde Baru. Ia menjadi salah satu tokoh yang berupaya mempertahankan komunikasi internal organisasi ketika kondisi politik semakin sulit.
Baca Juga: Kisah Prajurit Kostrad Bentak DN Aidit Agar Keluar dari Persembunyian
Namun, aktivitas tersebut tidak berlangsung lama. Pada tahun 1968, Bismarck Oloan Hutapea tertangkap aparat. Riwayat hidupnya kemudian berakhir setelah menerima eksekusi di wilayah Blitar Selatan, Jawa Timur. Eksekusi mati Bismarck Oloan Hutapea berlangsung pada 30 Juni 1968. Peristiwa tersebut sekaligus menandai berakhirnya perjalanan salah satu tokoh penting PKI ini. (R10/HR-Online)

12 hours ago
9

















































