Klenteng Tay Kak Sie yang terletak di kawasan Pecinan, Semarang, bukan sekadar tempat ibadah biasa, melainkan ikon sejarah dan budaya yang telah berdiri megah sejak ratusan tahun silam. Dibangun pada tahun 1746 oleh dua pedagang bernama Kho Ping dan Bon Wie, klenteng ini awalnya bernama Kwan Im Ting, dan didedikasikan untuk memuja Dewi Kwan Im (Dewi Welas Asih).
Keunikan sejarahnya terlihat dari pemberian nama “Tay Kak Sie” yang berarti “Kuil Kesadaran Agung”. Sebuah gelar yang dianugerahkan oleh Kaisar Dao Guang dari Dinasti Qing pada periode 1821–1850.
Sebagai klenteng terbesar dan terlengkap di Semarang, Tay Kak Sie memiliki daya tarik utama berupa 29 altar pemujaan Dewa-Dewi. Jumlah yang jauh melampaui klenteng lain di wilayah tersebut yang rata-rata hanya memiliki lima patung.
Baca Juga: Menjelajahi Pesona Pecinan Ikonik di Indonesia: Jejak Sejarah dan Akulturasi Budaya
Lokasinya yang berada di Gang Lombok No. 62, memiliki nilai filosofis tinggi dalam feng shui. Karena berdekatan dengan sungai yang dahulunya merupakan jalur perdagangan vital di Semarang. Selain itu, bangunan ini memiliki ciri khas “tusuk sate” yang dipercaya sebagai simbol penolak bala.
Arsitektur Klenteng Tay Kak Sie dan Ornamen Penuh Makna
Sisi artistik klenteng ini tercermin dari ornamen tradisional Tiongkok Selatan yang mendetail. Pada bagian atap, pengunjung dapat melihat sepasang naga (Liong) yang sedang memperebutkan mutiara alam semesta atau matahari. Ini melambangkan keadilan, kekuatan, dan penjaga dari pengaruh jahat.
Pada bagian lainnya terdapat hiasan Burung Hong (Phoenix) yang melambangkan kebajikan seperti ketulusan hati dan kesetiaan. Ukiran kayu yang rumit mendominasi interior klenteng. Termasuk penggunaan sistem penyangga segitiga atau dou-gong untuk menahan atap, mirip dengan gaya bangunan abad ke-19.
Baca Juga: Vihara Sian Djin Ku Poh, Jejak Sejarah dan Wisata Religi Karawang Berusia Ratusan Tahun
Salah satu elemen unik lainnya adalah Sumur Langit, sebuah lubang terbuka di tengah bangunan yang berfungsi sebagai altar utama untuk menyembah Tuhan Yang Maha Esa. Di depan Klenteng Tay Kak Sie, pengunjung akan disambut oleh replika kapal Laksamana Zheng He (Cheng Ho) yang ikonik.
Revitalisasi dan Destinasi Wisata Religi
Pemerintah Kota Semarang saat ini memberikan perhatian khusus pada Tay Kak Sie dengan menjadikannya titik awal atau embrio revitalisasi kawasan Pecinan. Program ini bertujuan untuk membenahi infrastruktur sekitar tanpa menghilangkan nilai sejarahnya yang kental.
Bagi wisatawan, Klenteng Tay Kak Sie merupakan destinasi yang sangat terjangkau dengan tiket masuk hanya Rp 3.000, dan terbuka selama 24 jam setiap hari.
Baca Juga: Mengenal Rumah Marga Tjhia, Destinasi Wisata Sejarah di Wilayah Pecinan Singkawang
Selain berwisata religi, pengunjung juga bisa menikmati kuliner legendaris Lumpia Gang Lombok yang berlokasi tepat di dekat pintu masuk klenteng. Perayaan besar seperti Imlek dan Cap Go Meh biasanya menjadi puncak keramaian di sini. Upacara ritual berlangsung secara khidmat, mulai dari pembersihan patung (rupang) hingga sembahyang menyambut tahun baru.
Dengan segala kemegahan sejarah dan budayanya, Klenteng Tay Kak Sie tetap berdiri tegak sebagai simbol toleransi dan kesadaran spiritual di Kota Semarang. (R3/HR-Online/Editor: Eva)

6 hours ago
5

















































