PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) menanggapi perubahan outlook kredit RI negatif memicu potensi peningkatan biaya penerbitan surat utang. Hal ini dengan menyusulnya keputusan Moody’s merevisi outlook dari stabil berubah negatif. Perubahan diumumkan pada Kamis, 5 Februari 2026 dan berdampak ke persepsi risiko negara. Lantas langkah strategi apa yang diambil BTN untuk mengatasi krisis tersebut?
Baca Juga: BTN Usulkan Skema Dana Abadi untuk Program 3 Juta Rumah
Strategi BTN di Tengah Tantangan Outlook Kredit RI Negatif
Direktur Utama BTN, Nixon LP Napitupulu tegaskan jika perubahan outlook sovereign credit rating Indonesia, terkait outlook kredit RI negatif memiliki potensi peningkatan biaya penerbitan surat utang. Memperjelas bahwa peringkat negara, yang dulu Baa2, berubah jadi Ba2, sehingga corporate rating turut mengikuti. Secara langsung hal ini mengakibatkan proses tawar-menawar dalam penerbitan surat menjadi mahal di pasar global.
Meski saat ini BTN belum memiliki rencana untuk masuk ke pasar pendanaan global di waktu dekat, namun Nixon menilai jika ketersediaan investor domestik masih sangat memadai dalam memenuhi kebutuhan pendanaan perseroan. Strategi pendekatan ini dinilai lebih efisien dari struktur biaya, jika mengingat kondisi pasar global kini hingga adanya outlook kredit RI.
Direktur utama juga mencatat penerbitan instrumen utang mata uang dolar AS saat ini kurang ekonomis untuk BTN. Hal ini menjadi penyebab portofolio pembiayaan perseroan, khususnya KPR (Kredit Pemilikan Rumah) berbasis rupiah. Adanya pendanaan valuta asing justru menimbulkan biaya tambahan signifikan, terutama selisih nilai tukar maupun biaya lindung nilai (swap).
Baca Juga: Dukung Kesejahteraan Personel, bank bjb Kelola Tukin TNI AU
Pemeringkat dan Rasio Pencadangan BTN
Berkaitan dengan hubungan lembaga pemeringkat internasional, Nixon sampaikan jika BTN tetap lakukan komunikasi aktif dan rutin. Pertemuan dengan lembaga pemeringkat menjadi praktik standar bagi bank. Memberikan penjelasan detail terkait strategi, profil risiko, maupun proyeksi bisnis. Hal ini justru penting guna memastikan pemahaman akurat untuk kondisi prospek bank.
Terkait pencadangan, Direktur BTN mengakui jika rasio relatif rendah daripada bank-bank anggota Himbara lain. Namun, ia juga menekankan jika rasio tetap berada di atas ketentuan minimum regulator dalam outlook kredit RI. Untuk rasio pencadangan (CKPN) saat ini berada di kisaran 125%.
Dampak Revisi Outlook Moody’s
Lembaga pemeringkat Moody’s turut mengumumkan mempertahankan sovereign credit rating Indonesia di level Baa2. Hal ini untuk melakukan penyesuaian outlook stabil menjadi negatif. Umumnya harus sejalan dengan langkah tepat, Moody’s turut merevisi outlook 5 bank, termasuk BTN. Sedangkan untuk bank lain yang turut terdampak, seperti Mandiri, Bank Rakyat Indonesia (BRI), Bank Negara Indonesia (BNI), serta Bank Central Asia (BCA).
Meskipun outlook direvisi berubah jadi negatif, Moody’s tetap pertahankan seluruh peringkat utama kelima bank ini. Betujuan mencakup peringkat penerbit, peringkat simpanan, peringkat utang senior tanpa jaminan, dan sejumlah indikator risiko maupun profil kredit lain. Hal ini menunjukkan jika fundamental kelima bank masih kuat, meskipun terdapat potensi risiko jangka menengah.
Baca Juga: Dorong UMKM Naik Kelas, bank bjb Sambangi Pedagang Pasar Sukasari Kota Bogor
Moody’s mencatat tingkat pencadangan bank masih relatif rendah daripada risiko aset terkait outlook kredit RI. Hal ini terutama akibat tingginya porsi kredit restrukturisasi outlook. Sayangnya, peringkat BTN juga bertopang dengan kuatnya dukungan pemerintah, sejalan adanya peran strategis bank untuk pembiayaan perumahan nasional. Berkat adanya strategi pendanaan BTN berkaitan dengan outlook kredit RI negatif, menyebabkan risiko kenaikan biaya utang. (R10/HR-Online)

13 hours ago
7

















































