harapanrakyat.com,- Di tengah derasnya arus modernisasi bahan bangunan, para pengrajin genteng tanah liat di Priangan Timur, Jawa Barat, nyaris kehilangan pijakan. Usaha turun-temurun yang selama puluhan tahun menjadi penopang hidup warga di Kota Banjar, Ciamis, Garut, Pangandaran, serta Kabupaten dan Kota Tasikmalaya, lama tak lagi merasakan “manisnya” perputaran ekonomi. Namun pernyataan Presiden Prabowo Subianto terkait rencana penggantian atap seng kumuh melalui program gentengisasi, seolah menjadi secercah harapan baru bagi pengrajin genteng di Priangan Timur.
Baca Juga: Dedi Mulyadi Siap Jalankan Arahan Presiden Soal Gentengisasi di Jawa Barat
Selama bertahun-tahun, genteng tanah liat produksi pengrajin kecil kalah bersaing dengan atap seng, asbes, maupun baja ringan yang dinilai lebih praktis dan cepat dalam pemasangan. Pergeseran selera konsumen membuat penggunaan genteng tradisional kian menyusut. Permintaan pasar merosot drastis, bahkan sebagian perajin terpaksa menghentikan produksi karena tak ada lagi pembeli maupun pengepul.
“Saya mewakili pengrajin genteng tanah liat merasa usaha kami selain sudah sekarat juga segera mati. Sudah lama kami tidak lagi membuat genteng karena tidak ada permintaan dari pembeli dan pedagang pengepul di Tasikmalaya. Kami warga Kampung Ablok di Banjar sejak nenek moyang mengandalkan usaha pembuatan genteng,” ungkap Nurdin, pengrajin genteng tanah liat asal Kampung Ablok, Kecamatan Langensari, Kota Banjar, dalam Sarasehan Ekonomi Kerakyatan di Kota Tasikmalaya, Rabu (11/2/2026).
Momentum Program Gentengisasi Presiden Prabowo, Peluang Kebangkitan Industri Genteng Di Priangan Timur
Titik balik muncul saat Presiden Prabowo, dalam Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Pemerintah Pusat dan Daerah di Sentul awal Februari 2026. Rakornas tersebut menyoroti kondisi hunian rakyat yang masih menggunakan atap seng kumuh.
Presiden Prabowo mencetuskan program “bedah atap” atau gentengisasi, sebuah langkah untuk mengganti atap rumah masyarakat berpenghasilan rendah dengan material yang lebih manusiawi dan nyaman.
Baca Juga: Kerajinan Tradisional Anyaman Bambu Buatan Mak Titi asal Tasikmalaya Tembus Pasar Dubai dan Pakistan
Bagi Nurdin, pengrajin asal Kampung Ablok, Kecamatan Langensari, Kota Banjar, pernyataan Presiden tersebut bagaikan “kabar dari surga”. Sebagai generasi yang mewarisi usaha dari nenek moyangnya, Nurdin mengaku usahanya selama ini sudah berada di ambang “sakaratul maut”.
“Sudah lama kami tidak mencetak genteng karena tidak ada permintaan, baik dari pembeli langsung maupun pengepul di Tasikmalaya. Kami merasa dilupakan, namun komitmen Presiden ini adalah bentuk keberpihakan nyata pada wong cilik,” ungkapnya.
Dari Tanah Menjadi Atap
Harapan para pengrajin genteng di Priangan Timur itu mengemuka dalam Sarasehan Ekonomi Kerakyatan bertema “Dari Tanah Menjadi Atap: Industri Genteng Tradisional Perkuat Kemandirian Ekonomi”. Sarasehan digelar oleh komunitas akademisi dan aktivis Tasikmalaya tergabung dalam ATA Consulting, di Cafe Kopi Bento, Kecamatan Tawang, Kota Tasikmalaya, Rabu (11/2/2026).
Nurdin duduk berdampingan dengan pengajar Program Pascasarjana Universitas Siliwangi, Edy Suroso, serta Ketua Dewan Koperasi Indonesia (Dekopin) Daerah Kota Tasikmalaya, Agus Rudianto. Dari ruang diskusi sederhana itu, isu genteng dibedah bukan sekadar sebagai bahan bangunan, tetapi sebagai simbol ekonomi rakyat.
Edy Suroso menilai narasi yang berseliweran di media sosial, yang menyebut persoalan genteng sebagai sesuatu yang “tidak genting”. Tentunya menurutnya itu mencerminkan ketidakpahaman terhadap persoalan mendasar rakyat kebanyakan.
“Tidak ada program pemerintah yang bisa memuaskan setiap orang. Tetapi harus diakui adanya kekuatan visi Presiden Prabowo Subianto dalam melihat persoalan kerakyatan,” ujarnya.
Baca Juga: Tingkatkan Produksi, Pandai Besi di Kampung Dokdak Ciamis Dapat Bantuan Mesin Modern
Ia mencontohkan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang sempat ditentang dan dicibir sebagian kalangan. Namun program tersebut kemudian mendapat apresiasi ketika dampaknya mulai terasa. Menurutnya, gentengisasi memiliki karakter ekonomi kerakyatan, padat karya, berbasis sumber daya lokal, serta relatif tahan terhadap krisis.
Industri genteng tradisional, kata Edy, menyerap tenaga kerja, memutar ekonomi desa, dan mengandung identitas kearifan lokal. Tanah yang diolah oleh pengrajin genteng bukan sekadar material, melainkan bagian dari sejarah sosial masyarakat Priangan Timur.
Alumni Program S-3 Universitas Padjadjaran itu juga melihat adanya semangat local pride yang sejak lama melekat pada Presiden Prabowo. Dalam kerangka itu, gentengisasi bisa dipahami sebagai upaya mengangkat usaha rakyat agar naik kelas, dari produksi rumahan menjadi bagian dari rantai pasok pembangunan nasional.
Peluang dan Tantangan
Namun harapan saja tidak cukup. Edy menegaskan, peluang besar program gentengisasi baru akan terwujud jika pengrajin siap berbenah. Permintaan pasar harus diimbangi mutu produksi yang terstandar dan bentuk usaha yang resmi, seperti koperasi.
Menurutnya, agar produk pengrajin genteng tanah liat khususnya di Priangan Timur bisa dipercaya pemerintah, pengrajin harus membenahi mutu produksinya dan memiliki badan usaha resmi. “Kalau pengrajin siap, pemerintah akan belanja. Kalau pemerintah belanja, ekonomi rakyat bergerak. Dari tanah menjadi atap, dari usaha kecil menjadi kekuatan daerah,” tandasnya.
Namun, membangkitkan industri yang hampir mati tidak semudah membalikkan telapak tangan. Agus Rudianto, Ketua Dekopin Daerah Kota Tasikmalaya, mengingatkan adanya ancaman dari korporasi besar yang siap menyalip peluang ini. Ia menekankan bahwa industri rakyat sangat rentan secara struktural.
Menurutnya, tanpa afirmasi kebijakan, koperasi pengrajin berisiko tersisih oleh industri besar yang memiliki modal dan jaringan lebih kuat.
“Industri rakyat rentan disalip korporasi besar karena koperasi lemah secara struktural. Harus ada konsolidasi, standarisasi produksi, dan perlindungan regulasi agar pengrajin tradisional benar-benar mendapat manfaat,” ujarnya.
Baik Edy Suroso maupun Agus Rudianto sepakat, bahwa kesiapan sektor pergentengan tradisional menjadi kunci. Akses permodalan, termasuk untuk pengadaan mesin cetak genteng dan kemudahan kredit perbankan bagi koperasi, perlu diperluas. Selain itu, pengrajin juga dituntut memahami digitalisasi guna memperluas pemasaran dan memperkuat daya saing.
Baca Juga: Melihat Pengrajin Golok di Pangandaran yang Masih Bertahan Sampai Saat Ini
Kini, di sentra-sentra produksi genteng Priangan Timur, harapan para pengrajin mulai tumbuh kembali. Tanah liat yang selama ini sepi sentuhan, berpotensi kembali dibentuk menjadi atap yang bukan sekadar pelindung rumah, tetapi juga simbol kebangkitan ekonomi rakyat. (Apip/R5/HR-Online/Editor: Adi Karyanto)

13 hours ago
6

















































