Karir Godi Suwarna, Sastrawan Sunda yang Konsisten Berkarya

17 hours ago 10

Jejak karir Godi Suwarna menegaskan posisinya sebagai salah satu sastrawan Sunda yang berpengaruh di Indonesia. Tahun 2025 lalu, ia sempat meraih penghargaan dalam kategori Sastra pada Anugerah Kebudayaan Indonesia atau AKI dari Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Penghargaan ini menjadi bukti nyata atas dedikasi Godi Suwarna dalam memperbarui, menghidupkan dan membawa sastra Sunda ke ranah panggung nasional, bahkan hingga internasional. 

Baca Juga: Karya Ajip Rosidi, Sastrawan Majalengka Penting di Indonesia

Menelusuri Jejak Karir Godi Suwarna sebagai Sastrawan Sunda

Godi Suwarna terkenal sebagai sosok yang berani dalam menafsirkan ulang sebuah tradisi sastra Sunda, tapi tanpa melepaskan akarnya. Lewat novel, puisi, cerpen, pembacaan puisi hingga pertunjukan teater, ia membawa bahasa Sunda sebagai media yang relevan dengan zaman. Berbagai karya diciptakan tidak hanya dibaca, tapi juga direalisasikan ke dalam berbagai seni. 

Biografi Godi Suwarna

Godi Suwarna terlahir di Tasikmalaya pada 23 Mei 1956. Ia adalah sastrawan Indonesia yang dikenal lewat berbagai karya. Karya populernya mencakup cerpen dan puisi, terpublikasi ke berbagai media massa. 

Sosok Godi Suwarna juga merupakan salah satu penerima Hadiah Sastra Rancage pada tahun 1996. Hadiah Sastra Rancage sendiri merupakan penghargaan yang khusus diberikan pada orang yang dianggap berjasa bagi pengembangan bahasa dan sastra daerah. 

Sebagai maestro ternama, jejak karir Godi Suwarna tidak hanya sekedar menulis saja. Tapi ia juga membangun berbagai ekosistem sastra. Lewat karyanya yang begitu populer, Godi Suwarna seringkali jadi rujukan bagi generasi muda. Bahkan, ia juga menjadi rujukan untuk membuka ruang diskusi yang menginspirasi seniman Indonesia untuk terus berani berkarya. 

Pencapaiannya di ajang nasional dan internasional menjadi bukti bahwa sastra daerah pun mampu berdiri sejajar dengan sasara kelas dunia. Hal ini bisa terwujud jika dikerjakan dengan niat, kesungguhan dan keberanian. 

Jejak Karir

Godi Suwarna mengawali karirnya dengan menulis sajak dan cerpen dalam bahasa Sunda. Ia pertama kali menulis pada tahun 1976 ketika masih menjadi salah satu mahasiswa di IKIP Bandung. Selesai tamat kuliah, ia kemudian mendirikan grup teater bersama mahasiswa asal IKIP Bandung.

Baca Juga: Mengenal Sastrawan Betawi S.M Ardan dan Karya-karyanya

Sejak kecil, Godi Suwarna memang sudah hobi bermain sandiwara. Bahkan, ia pernah menjadi aktor, sutradara dan menulis sebuah naskah drama. Beberapa hasil tulisannya termasuk Orang-orang Kelam, Burung-burung Hitam, Gor Gar dan Gaok-gaok Geblek. 

Dalam sejarah karirnya, Godi Suwarna pernah menyandang sebagai Sutradara Terbaik Porseni Mahasiswa Tingkat Nasional yang berlangsung tahun 1981. Kemudian, ia bergabung bersama Studi Klub Bandung. Saat itu, ia belajar teater bersama dengan Suyatna Anirun. 

Selama bergabung di Studi Klub Bandung, Godi Suwarna pernah bermain Sang Naga, King Lear dan Impian di Tengah Musim. Berlanjut tahun 1997, ia menjadi sutradara dalam pagelaran puisi Konglomerat Kéré Lauk yang berlangsung di Universitas Wollongong, Australia.

Jejak karir Godi Suwarna sejak tahun 1998 tercatat aktif turut serta dalam festival kebudayaan semalam suntuk atau Nyiar Lumar. Festival ini begitu unik, sebab berlangsung di hutan keramat Astanagedé, Kawali, Kabupaten Ciamis. Di mana, lokasi tersebut merupakan salah satu warisan peninggalan dari Kerajaan Galuh.

Karya Populer Godi Suwarna

Godi Suwarna merupakan sastrawan dengan karakter unik ketika berekspresi dalam dunia seni. Karakter unik ini menjadikannya sebagai sosok yang dikagumi dalam setiap penampilannya. Karya tulisnya pun memiliki ciri khas yang membedakannya dengan karya sastrawan Sunda lain. 

Godi Suwarna menyampaikan karya tulisnya dengan bahasa Sunda yang mengalir. Penguasan Godi terhadap bahasa Sunda dan wawasannya yang begitu luar biasa, semakin meningkatkan daya tariknya sebagai Sastrawan Sunda. 

Terkadang, karya sastranya tertulis dengan kosakata arkais. Hal ini membuat pembaca ketar-ketir menyibak tabir makna dari karya tulis Godi. Imajinasinya begitu luas dan kaya, sehingga melahirkan karya yang tak kalah eksentrik dari karakter penulisnya. 

Berikut beberapa karya dari Godi Suwarna

  • Jagat Alit tahun 1979
  • Murang-Maring tahun 1980
  • Surat-surat Kaliwat tahun 1982
  • Blues Kéré Lauk tahun 1992
  • Serat Sarwasatwa tahun 1995
  • Dongéng Si Ujang tahun 1998

Baca Juga: Profil Daeng Kanduruan Ardiwinata, Sastrawan Sunda Berdarah Bugis Pendiri Paguyuban Pasundan

Karir Godi Suwarna sebagai sastrawan Sunda menunjukkan dedikasinya yang luar biasa dalam mengembangkan sastra daerah. Karir Godi Suwarna lewat puisi, cerpen dan lainnya, mampu memberikan warna baru yang tetap berakar pada budaya lokal. Kontribusinya ini menjadikannya sebagai salah satu tokoh penting dalam perkembangan sastra Sunda di era modern. (R10/HR-Online)

Read Entire Article
Perayaan | Berita Rakyat | | |