Mengungkap Sejarah Bulan Ramadhan dan Asal Usul Kewajiban Puasa

5 hours ago 5

harapanrakyat.com,- Memahami sejarah bulan ramadhan sangat penting untuk mengetahui asal usul perintah ibadah puasa umat Islam. Momen suci ini selalu membawa suasana khusyuk yang dinantikan jutaan kaum muslimin di seluruh dunia.

Di balik ritual menahan lapar, tersimpan rentetan peristiwa spiritual mendalam yang membentuk esensi bulan mulia ini. Narasi berikut akan mengupas perkembangan hukum puasa dari masa nabi terdahulu hingga tradisi masyarakat Indonesia.

Akar Sejarah Bulan Ramadhan dan Warisan Nabi Terdahulu

Ibadah puasa pada dasarnya merupakan warisan spiritual tua yang telah dilakukan oleh para nabi terdahulu. Nabi Adam melaksanakan puasa pada sepuluh Muharram sebagai wujud rasa syukur yang tulus kepada Allah.

Beliau melakukan puasa tersebut setelah berhasil bertemu kembali dengan Siti Hawa di kawasan Jabal Rahmah. Selain itu, Nabi Nuh juga menjalankan ibadah serupa setelah selamat dari bencana banjir bah yang mengerikan.

Baca juga: Batas Waktu Membaca Niat Puasa Ramadhan, Panduan Lengkap Bacaan hingga Keutamaannya

Umat Nasrani kemudian memodifikasi tradisi puasa ini dengan menambahkan sepuluh hari sebagai bentuk kaffarah penebusan dosa. Akibatnya, jumlah hari puasa umat Nasrani tersebut menjadi genap empat puluh hari secara keseluruhan.

Para pemimpin agama mereka kemudian memindahkan waktu pelaksanaan puasa menuju musim semi yang lebih sejuk. Langkah ini bertujuan menghindari cuaca panas menyengat agar pengikut mereka lebih mudah menjalankan ibadah secara penuh.

Rasulullah SAW dan umat Islam awalnya menjalankan puasa pada hari Asyura setiap tahun secara rutin. Mereka melakukan hal itu untuk mengikuti tradisi Nabi Musa yang selamat dari kejaran pasukan Firaun.

Kaum Quraisy nyatanya juga sudah melestarikan kebiasaan berpuasa Asyura sejak masa jahiliyah sebelum Islam datang. Selanjutnya, Nabi Muhammad tetap memerintahkan umat Islam berpuasa Asyura saat baru tiba di Kota Madinah.

Baca juga: Hadits Makan Kurma Ketika Berbuka Puasa, Inilah Anjuran Rasulullah

Aturan awal ini memberikan kebebasan bagi umat Islam untuk memilih berpuasa atau membayar denda. Mereka yang tidak sanggup berpuasa wajib membayar fidyah kepada orang miskin yang sangat membutuhkan bantuan.

Penetapan Perintah Puasa dan Kemudahan Syariat

Perintah resmi mengenai kewajiban puasa secara penuh akhirnya turun pada tahun kedua kalender Hijriyah. Allah menurunkan syariat ini melalui wahyu suci dalam Surah Al-Baqarah ayat 183 yang sangat jelas.

Allah mewajibkan ibadah ini agar kaum mukminin dapat mencapai derajat ketakwaan tertinggi di hadapan-Nya. Oleh karena itu, momen turunnya ayat ini menjadi titik balik sangat penting bagi sejarah umat Islam.

Allah menetapkan hukum puasa secara bertahap melalui mekanisme penghapusan aturan lama yang sangat bijaksana. Ketetapan baru akhirnya mewajibkan setiap pemeluk Islam yang sehat untuk menunaikan puasa wajib secara utuh.

Baca juga: Hikmah Puasa Rajab sebagai Bekal Ramadhan bagi Umat Islam

Namun, syariat Islam tetap memberikan keringanan bagi orang tua renta dan orang sakit parah. Mereka diperbolehkan mengganti kewajiban puasa tersebut dengan memberikan makanan kepada fakir miskin di sekitar mereka.

Aturan puasa menjadi lebih fleksibel setelah Allah mengizinkan makan pada malam hari secara bebas. Kemudahan ini menghapus aturan ketat sebelumnya yang membatasi waktu makan setelah seseorang terbangun dari tidur.

Peristiwa Besar dan Tradisi Lokal Masyarakat

Peristiwa turunnya wahyu pertama Al Quran terjadi pada tanggal tujuh belas saat bulan suci ini berlangsung. Momen ini menandai dimulainya era kenabian Muhammad saat beliau tepat berusia empat puluh tahun.

Selain itu, bulan ini memiliki malam Lailatul Qadar yang keutamaannya sangat luar biasa bagi manusia. Kemuliaan malam tersebut diyakini jauh melebihi nilai ibadah selama seribu bulan secara berturut-turut.

Pasukan Muslim juga berhasil meraih kemenangan luar biasa dalam Perang Badar yang sangat bersejarah. Keberhasilan ini diraih meskipun jumlah personel mereka jauh lebih sedikit dibandingkan pasukan musuh yang tangguh.

Baca juga: Puasa Nabi Sulaiman, Penuh Makna Mendalam

Di Indonesia, umat Islam rutin melaksanakan shalat Tarawih secara berjamaah di masjid setiap malam. Ibadah malam ini menjadi sarana efektif untuk memperkuat hubungan spiritual manusia dengan Sang Pencipta.

Pedagang takjil biasanya memadati pinggir jalan untuk menawarkan berbagai hidangan lezat menjelang waktu berbuka. Fenomena kuliner musiman ini menjadi pemandangan ikonik yang menambah kemeriahan bulan puasa di berbagai wilayah Nusantara.

Pengetahuan tentang sejarah bulan ramadhan memberikan kita apresiasi lebih terhadap nikmat beribadah di masa kini. Raihlah keberkahan bulan ramadhan dengan konsisten menjalankan berbagai amal kebaikan hingga hari kemenangan tiba. (Muhafid/R6/HR-Online)

Read Entire Article
Perayaan | Berita Rakyat | | |