harapanrakyat.com,- Sejarah Situs Batujaya berdiri kokoh sebagai kompleks percandian tertua di Indonesia yang terletak di wilayah Kabupaten Karawang. Peninggalan megah ini menyimpan nilai sejarah luar biasa bagi peradaban Nusantara karena telah ada sejak masa awal masehi.
Bangunan bersejarah ini terletak di tengah hamparan persawahan luas pada wilayah pesisir utara Jawa Barat. Keberadaan kompleks situs budaya ini mematahkan catatan Fa Hsien tahun 414 Masehi yang menyatakan bahwa penganut Buddha di Jawa jarang ditemukan.
Jejak Sejarah Situs Batujaya dan Lokasi Strategisnya
Para arkeolog mengidentifikasi lokasi administratif situs ini berada di dua desa, yaitu Desa Segaran dan Desa Telagajaya. Penduduk lokal mengenal gundukan tanah candi tersebut dengan sebutan unur yang selama ini dikeramatkan oleh warga sekitar.
Baca juga: Sejarah Candi Bima Dieng Bukti Akulturasi Arsitektur India yang Langka
Hasil penanggalan radiometri karbon 14 menunjukkan bahwa situs ini telah berkembang aktif sejak abad ke-2 hingga abad ke-12 Masehi. Selain itu, kawasan ini menjadi saksi bisu transisi budaya dari masa prasejarah Kebudayaan Buni menuju masa pengaruh Hindu-Buddha.
Kawasan purbakala ini berjarak sekitar 40 kilometer dari pusat kota Karawang dan terletak hanya 500 meter di utara Sungai Citarum. Lingkungan aslinya merupakan area rawa atau danau purba yang terbentuk akibat beralihnya aliran sungai dari arah utara ke barat laut.
Data arkeologis ini menegaskan bahwa Batujaya bukan sekadar tempat ibadah, melainkan pusat peradaban yang sangat maju. Lokasinya yang dekat pantai utara menjadikannya simpul penting dalam jalur perdagangan maritim internasional pada masa lalu.
Berbeda dengan candi di Jawa Tengah yang menggunakan batu andesit, arsitektur Batujaya mengandalkan material batu bata merah sebagai bahan utama. Masyarakat masa itu telah menerapkan teknologi maju berupa campuran sekam padi untuk memastikan kematangan bata saat dibakar.
Baca juga: Sejarah Candi Arjuna Dieng, Ditemukan Tentara setelah Tenggelam Berabad-abad di Telaga
Mereka juga menggunakan beton kuno atau stucco concrete yang terdiri dari campuran kerikil, pasir, dan kapur untuk memperkuat struktur. Inovasi material ini membuktikan bahwa peradaban di pesisir utara Jawa sudah memiliki pengetahuan teknik bangunan yang sangat mumpuni.
Proses pembuatan batu bata melibatkan teknik pemanggangan hingga mencapai suhu 700 derajat celsius agar material matang hingga bagian terdalam. Selain itu, pengelola melapisi permukaan candi dengan lepa atau stucco plaster untuk membentuk estetika sekaligus melindungi struktur bangunan.
Eksplorasi Struktur Utama Candi Jiwa dan Candi Blandongan
Candi Jiwa menampilkan karakteristik unik tanpa tangga naik yang bentuknya menyerupai bunga teratai mekar di atas permukaan air. Struktur atas bangunan ini memiliki denah melingkar yang diduga merupakan bekas stupa atau tempat berdirinya patung Buddha.
Umat Buddha biasanya melakukan ritual pradaksina dengan mengelilingi struktur menyerupai bunga padma ini sebanyak tiga kali searah jarum jam. Filosofi bentuk ini menggambarkan kesucian ajaran Buddha yang mekar indah meskipun tumbuh di lingkungan air yang berlumpur.
Baca juga: Mengungkap Sejarah Penemuan Candi Borobudur yang Sempat Hilang Tertimbun Hutan
Sebaliknya, Candi Blandongan memiliki ukuran lebih luas mencapai 25 meter persegi dengan struktur tangga fungsional pada keempat sisinya. Bangunan ini dilengkapi dengan pagar langkan serta lantai bata yang dilapisi beton stuko setebal lima belas sentimeter.
Keberadaannya sering dihubungkan dengan penghormatan terhadap Raja Purnawarman dari Kerajaan Tarumanagara sebagai bentuk toleransi beragama yang tinggi pada masa itu. Data arkeologi menunjukkan adanya perbedaan fungsi yang sangat signifikan antara kedua bangunan utama di kompleks ini.
Candi Jiwa berfokus pada visualisasi keagamaan Buddha melalui simbol-simbol suci yang melekat pada arsitekturnya. Sementara Candi Blandongan diduga kuat berfungsi sebagai candi pendharmaan bagi raja atau tempat penyimpanan abu jenazah tokoh penting.
Penemuan Artefak dan Signifikansi Budaya Dunia
Ekskavasi di kawasan ini berhasil menemukan votive tablet, lempengan emas, dan amulet yang menggambarkan kisah Mukjizat Ganda Buddha. Temuan ini mengindikasikan adanya pengaruh tradisi Nalanda dari India Utara yang masuk melalui jalur perdagangan laut di pantai utara.
Amulet yang ditemukan menampilkan sosok Buddha bersama Brahma Sahampati dan Dewa Sakra dalam detail ukiran yang sangat halus. Seluruh temuan keagamaan ini mengonfirmasi bahwa masyarakat setempat menganut aliran Buddha Mulasarwastiwada yang berasal dari tradisi sastra Diwyawadana.
Baca juga: Sejarah Kerajaan Kediri dari Masa Emas Jayabaya Hingga Runtuh di Tangan Ken Arok
Selain artefak religius, penemuan rangka manusia prasejarah dengan bekal kubur berupa periuk Arikamedu menunjukkan akar budaya yang sangat tua. Hal tersebut menegaskan bahwa Batujaya merupakan pusat hunian sekaligus tempat suci yang penting sejak masa Kebudayaan Buni.
Situs Batujaya adalah warisan tak ternilai yang membuktikan kecanggihan teknologi serta tingginya toleransi beragama masyarakat Nusantara di masa lampau. Kita harus menjaga kelestarian sejarah agar tetap menjadi sumber ilmu pengetahuan bagi generasi mendatang. (Muhafid/R6/HR-Online)

6 hours ago
5

















































