harapanrakyat.com,- Sejarah Kerajaan Singasari memegang peran sangat penting dalam sejarah kemaritiman di Nusantara kuno. Kehadirannya menjadi tonggak awal bagi konsep persatuan wilayah yang membentang luas di berbagai pulau besar Indonesia.
Ken Arok mendirikan kerajaan ini melalui serangkaian perebutan kekuasaan yang penuh drama sejarah di wilayah Jawa Timur. Masa kejayaan tersebut berakhir dengan gugurnya raja terakhir yang kemudian memicu lahirnya kemaharajaan Majapahit di masa mendatang.
Awal Mula Sejarah Kerajaan Singasari dan Kudeta Ken Arok
Wilayah Singasari pada mulanya merupakan sebuah daerah bawahan dari Kerajaan Kediri yang semula bernama Tumapel. Ken Arok menjabat sebagai pengawal akuwu Tumapel sebelum ia memutuskan untuk menggulingkan kekuasaan Tunggul Ametung.
Baca juga: Sejarah Kerajaan Kediri dari Masa Emas Jayabaya Hingga Runtuh di Tangan Ken Arok
Ia kemudian mengangkat dirinya menjadi penguasa baru setelah menyingkirkan Tunggul Ametung melalui tipu muslihat yang terencana matang. Namun, ambisi Ken Arok tidak berhenti pada jabatan akuwu karena ia menginginkan kemerdekaan penuh bagi wilayah Tumapel.
Oleh karena itu, ia mulai menghimpun kekuatan militer dengan dukungan kaum Brahmana untuk melawan otoritas Raja Kertajaya. Selanjutnya, perseteruan politik ini memicu perang besar yang menjadi awal berdirinya sebuah wangsa baru di Jawa Timur.
Ken Arok terobsesi pada Ken Dedes setelah melihat cahaya yang memancar dari betis perempuan tersebut secara tidak sengaja. Ia meyakini ramalan bahwa laki-laki yang menikahi Ken Dedes akan menjadi raja besar karena ia merupakan titisan Ardanariswari.
Maka dari itu, Ken Arok memesan keris kepada Mpu Gandring untuk melaksanakan niat menyingkirkan Tunggul Ametung dari singgasana. Rencana licik ini berjalan mulus hingga akhirnya ia berhasil memperistri Ken Dedes dan mengambil alih kekuasaan Tumapel.
Pasukan Tumapel akhirnya berhadapan langsung dengan tentara Raja Kertajaya dalam sebuah pertempuran besar di Desa Ganter pada tahun 1222 Masehi. Ken Arok berhasil meraih kemenangan mutlak dan secara resmi mengakhiri dominasi Kerajaan Kediri di tanah Jawa.
Baca juga: Mengulas Seputar Sejarah Kerajaan Kendan di Jawa Barat
Peristiwa bersejarah ini menandai berdirinya Wangsa Rajasa yang menguasai Jawa dengan gelar Sri Rangga Rajasa Sang Amurwabhumi. Kemenangan ini mengubah peta politik Jawa Timur secara drastis dan menempatkan Singasari sebagai kekuatan baru yang disegani.
Dinamika Politik Berdarah dan Visi Besar Kertanegara
Pergantian takhta di Singasari diwarnai oleh konflik internal dan upaya balas dendam antar keturunan penguasa secara berkesinambungan. Anusapati naik takhta setelah menyingkirkan Ken Arok untuk membalaskan kematian ayah kandungnya melalui perantara orang suruhan.
Selanjutnya, Tohjaya merebut kekuasaan dari tangan Anusapati sebelum akhirnya ia digulingkan oleh kekuatan pasukan pendukung Ranggawuni. Siklus darah ini menjadi warna kelam dalam perjalanan sejarah wangsa Rajasa di masa-masa awal pemerintahannya.
Kondisi kerajaan mulai mencapai stabilitas yang signifikan ketika Wisnuwardhana atau Ranggawuni memegang kendali pemerintahan dengan penuh tanggung jawab. Ia berhasil membawa kesejahteraan bagi seluruh rakyat serta mempersiapkan putranya untuk menjadi pemimpin besar Singasari di masa depan.
Baca juga: Mengenal Kisah Putri Kerajaan Galuh dalam Sejarah Sunda
Raja Kertanegara membawa Singasari ke puncak keemasan melalui kecerdasannya dalam mengelola urusan politik serta aspek keagamaan secara mendalam. Ia mengembangkan konsep Cakrawala Mandala Dwipantara sebagai wawasan kemaritiman strategis untuk memperkuat kedaulatan pemerintah di hadapan kekuatan asing.
Visi besar ini bertujuan untuk menyatukan berbagai pulau di luar Jawa demi membendung pengaruh ekspansif Dinasti Yuan dari Tiongkok. Kertanegara menyadari bahwa ancaman Mongol harus dihadapi dengan persatuan kerajaan-kerajaan di seluruh kepulauan Nusantara.
Kertanegara meluncurkan Ekspedisi Pamalayu pada tahun 1275 Masehi dengan mengirimkan armada militer menuju wilayah Sumatra. Langkah ini bertujuan menjalin aliansi dengan Kerajaan Melayu guna membangun blok kekuatan anti-Mongol di kawasan Nusantara.
Singasari juga memberikan Arca Amoghapasa sebagai simbol persahabatan serta ikatan politik yang erat dengan penguasa Melayu di Dharmasraya. Hadiah diplomatik ini mempererat hubungan kedua kerajaan dalam menghadapi ancaman bersama dari kekuatan utara.
Keruntuhan Kerajaan dan Jejak Peninggalan Arkeologis
Ketegangan diplomatik memuncak ketika utusan Kaisar Kubilai Khan datang untuk menuntut pengakuan kedaulatan dari pihak Singasari. Kertanegara memprovokasi kemarahan Mongol dengan melukai utusan bernama Mengki sebagai bentuk penolakan tegas terhadap tuntutan tersebut.
Sikap berani ini memicu amarah pihak Mongol yang kemudian segera merencanakan invasi besar untuk menghukum penguasa di tanah Jawa. Keputusan ini menjadi titik balik yang kelak akan mengubah nasib Singasari di masa-masa akhir kekuasaannya.
Jayakatwang melancarkan serangan mendadak yang meruntuhkan Kerajaan Singasari saat sebagian besar pasukan utama sedang berada di luar Jawa. Kematian Kertanegara dalam peristiwa tersebut segera mengakhiri kekuasaan Wangsa Rajasa di pusat pemerintahan kerajaan Singasari.
Raden Wijaya kemudian menggunakan momentum tersebut untuk menyelamatkan diri dan merintis pendirian Kerajaan Majapahit sebagai penerus sah visi Kertanegara. Ia memanfaatkan kedatangan pasukan Mongol untuk menghancurkan Jayakatwang sebelum akhirnya mengusir mereka kembali ke negerinya.
Baca juga: Jejak Emas Kerajaan Sriwijaya di Sungai Musi, Harta Karun Peninggalan Sejarah yang Jadi Buruan
Eksistensi kerajaan ini terbukti melalui keberadaan Candi Singasari dan Candi Jawi yang berfungsi sebagai tempat pendharmaan abu Kertanegara. Selain itu, terdapat peninggalan berupa Candi Kidal yang dibangun khusus untuk memuliakan Raja Anusapati setelah wafatnya.
Temuan Prasasti Singasari memberikan informasi detail mengenai wafatnya Kertanegara pada tahun 1292 Masehi akibat serangan militer dari Jayakatwang. Gajah Mada memerintahkan pembuatan prasasti ini pada tahun 1351 Masehi sebagai bentuk penghormatan terhadap Kertanegara dan para menteri.
Singasari telah meletakkan landasan kuat bagi konsep Nusantara melalui visi kemaritiman berani yang kemudian diteruskan oleh Majapahit. Pengaruh besar sejarah Kerajaan Singasari tetap abadi dalam catatan sejarah Indonesia sebagai pelopor semangat persatuan wilayah Indonesia. (Muhafid/R6/HR-Online)

18 hours ago
8

















































