harapanrakyat.com,- Sejarah Kerajaan Kediri mencatat perjalanan panjang salah satu kekuatan Hindu terbesar yang pernah mendominasi wilayah Jawa Timur. Entitas politik yang juga dikenal sebagai Panjalu ini meninggalkan jejak peradaban sejarah Indonesia yang sangat agung dan monumental.
Kisahnya bermula dari pembagian wilayah oleh Raja Airlangga hingga mencapai puncak kejayaan di bawah pemerintahan Prabu Jayabaya. Namun, kekuasaan ini akhirnya runtuh akibat konflik internal kerajaan yang melibatkan kaum Brahmana dan Raja Kertajaya.
Sejarah Pembagian Wilayah Kerajaan Kediri
Raja Airlangga membelah wilayah kerajaannya menjadi dua bagian utama pada tahun 1041 Masehi demi mencegah perang saudara. Keputusan berat ini diambil setelah putri mahkota Sangrama Wijaya Tungga Dewi menolak takhta untuk menjadi pertapa.
Brahmana sakti bernama Empu Bharada menjalankan tugas pembagian wilayah tersebut atas perintah langsung dari sang raja. Ia terbang membawa kendi berisi air suci untuk menandai batas-batas wilayah baru di tanah Jawa.
Baca juga: Mengenal Kisah Putri Kerajaan Galuh dalam Sejarah Sunda
Gunung Kawi dan aliran Sungai Brantas menjadi batas alam yang memisahkan wilayah kekuasaan Jenggala dengan Panjalu. Wilayah barat menjadi Kerajaan Panjalu atau Kediri yang berpusat di Daha, sedangkan timur menjadi Jenggala di Kahuripan.
Prabu Jayabaya membawa kerajaan mencapai puncak kemasyhuran pada periode tahun 1135 sampai 1157 Masehi. Ia berhasil menyatukan kembali Jenggala dan Panjalu setelah memenangkan peperangan saudara yang melelahkan dan panjang.
Keberhasilan militer tersebut melahirkan semboyan terkenal Panjalu Jayati yang memiliki makna Panjalu menang dalam prasasti. Pemerintah membangun kekuatan militer tangguh dengan dukungan 30.000 prajurit yang mendapat gaji tetap dari kas negara.
Pengaruh spiritual sang raja juga sangat kuat melalui ramalan masa depan yang tertulis dalam kitab Jongko Joyoboyo. Jayabaya mencanangkan visi kemakmuran menyeluruh melalui optimalisasi lahan pertanian subur di kaki Gunung Kelud.
Baca juga: Jejak Emas Kerajaan Sriwijaya di Sungai Musi, Harta Karun Peninggalan Sejarah yang Jadi Buruan
Rakyat menikmati kondisi aman dan sejahtera karena kebijakan raja yang sangat adil dalam memimpin negara. Kerajaan ini bahkan tercatat sebagai negeri paling kaya di Jawa menurut kronik Cina pada masa itu.
Perkembangan Sastra dan Peristiwa Keruntuhan Kerajaan
Seni sastra berkembang pesat karena para raja memberikan dukungan penuh bagi kreativitas para pujangga istana. Empu Sedah dan Empu Panuluh menyusun Kitab Bharatayudha yang menjadi simbol persatuan Jenggala dan Panjalu.
Selain itu, Empu Triguna menggubah Kitab Kresnayana dan Empu Tan Akung menyusun Kitab Lubdhaka yang sarat nilai moral. Tema-tema ini mencerminkan tingginya standar etika dan religiusitas yang dianut oleh masyarakat Kediri kala itu.
Kerajaan mulai runtuh pada masa pemerintahan Raja Kertajaya yang menuntut kaum Brahmana untuk menyembah dirinya. Tindakan ini melanggar norma agama sehingga para Brahmana mencari perlindungan kepada Ken Arok di Tumapel.
Baca juga: Mengulas Seputar Sejarah Kerajaan Kendan di Jawa Barat
Pasukan Tumapel pimpinan Ken Arok menghancurkan militer Kediri dalam Pertempuran Ganter yang dahsyat pada tahun 1222. Kekalahan telak Kertajaya ini menandai berakhirnya dinasti Panjalu dan berdirinya Kerajaan Singasari yang baru.
Jejak sejarah terekam dalam berbagai prasasti penting seperti Prasasti Ngantang, Sirah Keting, dan Prasasti Jaring. Prasasti Jaring mengungkap sistem birokrasi unik yang menggunakan nama hewan seperti Macan Kuning sebagai gelar resmi pejabat.
Warisan peradaban luhur ini tetap menjadi identitas sejarah yang memperkaya khazanah kebudayaan bangsa Indonesia. Mempelajari sejarah Kerajaan Kediri membuka wawasan kita tentang dinamika politik dan kemajuan sastra masa lalu. (Muhafid/R6/HR-Online)

19 hours ago
8

















































