harapanrakyat.com,- Dua bocah sekolah dasar (SD) asal Kecamatan Cilawu, Kabupaten Garut, Jawa Barat, sempat viral setelah mengaku hampir diculik. Keduanya bahkan meminta dikawal petugas Satpol PP Kecamatan Cilawu untuk menghindari tindakan kejahatan. Namun, setelah dilakukan penyelidikan oleh pihak kepolisian, pengakuan tersebut dipastikan tidak benar. Kedua bocah itu mengarang cerita sebagai alasan agar tidak dimarahi orang tua karena tidak masuk sekolah.
Dalam video yang beredar, kedua bocah tersebut tampak menangis saat didatangi sejumlah petugas Satpol PP Kabupaten Garut. Salah satu dari bocah SD itu sempat mengaku hampir menjadi korban penculikan oleh orang tak dikenal yang disebut-sebut menggunakan mobil berwarna hitam.
Baca Juga: 23 Pengedar Narkoba Diciduk Polres Garut, 3 Diantaranya Wanita
Momen dua bocah SD yang tampak waswas itu sempat direkam warga dan diunggah ke media sosial Facebook. Polisi yang menerima informasi tersebut langsung mendatangi lokasi yang diduga menjadi tempat kejadian perkara. Selain itu, kedua bocah juga dibawa ke Unit PPA Polres Garut untuk dimintai keterangan.
Didampingi kedua orang tuanya, kedua bocah tersebut akhirnya dimintai keterangan oleh petugas. Dari hasil pemeriksaan terungkap bahwa cerita hampir diculik hanyalah alibi yang dibuat karena mereka bolos sekolah dan bermain.
Bocah SD Ngaku Hampir Diculik, Ortu Klarifikasi
Viralnya unggahan warga sempat menimbulkan kegaduhan di media sosial. Menyikapi hal tersebut, orang tua kedua bocah kemudian menyampaikan permintaan maaf melalui sebuah video dan mengakui peristiwa tersebut merupakan rekayasa anak-anak mereka.
Baca Juga: Polres Garut Tangkap Seorang Mahasiswa yang Memproduksi Ganja Sintetis di Rumahnya
“Saya orang tua dari anak. Kami mengucapkan terima kasih kepada Polres Garut dan merasa puas dengan pelayanan unit PPA Sat Reskrim Polres Garut. Mengklarifikasi terkait adanya tindak pidana penculikan terhadap anak kami, dan ramai di sosial media atau viral,” ujar kedua orang tua dalam video klarifikasi, Selasa (10/2/2026).
“Telah dilakukan klarifikasi kepada anak oleh anggota unit PPA tentang kronologisnya. Anak kami tidak ingin masuk ke sekolah dan main ke pemakaman dan main ke Alun-alun Garut dengan menggunakan angkot. Anak kami berbohong dikarenakan takut dimarahi orang tua, demikian terima kasih,” tambahnya. (Pikpik/R9/HR-Online/Editor-Dadang)

19 hours ago
9

















































