Menilik Makam Peninggalan Belanda, Ereveld Leuwigajah Cimahi

11 hours ago 7

Ereveld Leuwigajah Cimahi merupakan makam kehormatan Belanda terbesar yang berlokasi di Indonesia. Makam kehormatan ini berada di lahan kosong, letaknya di belakang pemakaman umum kota. Selama pemerintahan Jepang di Hindia Belanda, lokasi tersebut berguna sebagai tempat untuk menguburkan korban perang Belanda pada masa pendudukan Jepang.

Baca Juga: Menilik Sejarah Penjara Poncol Cimahi

Deretan Fakta Menarik Seputar Ereveld Leuwigajah Cimahi

Ereveld Leuwigajah merupakan satu dari tujuh makam kehormatan Belanda di Indonesia. Peresmian area pemakaman ini berlangsung pada 20 Desember 1949. Hingga kini, Ereveld Leuwigajah terkelola dengan baik oleh Yayasan Makam Kehormatan Belanda atau Oorlogsgravenstichting (OGS).

Dalam sejarahnya, Ereveld Leuwigajah menjadi persemayaman terakhir dari ribuan Koninklijk Nederlandsch-Indisch Leger (KNIL) dan sipi yang menjadi tawanan Jepang. Selain itu, pemakaman ini juga menjadi tempat peristirahatan bagi warga Indonesia yang bekerja pada Belanda dan turut menjadi korban kala itu. 

Terdiri dari 5.000 Nisan

Franky Tuhumury selaku pengawas Ereveld Leuwigajah menyebutkan bahwa makam pahlawan Belanda terdiri dari 5.000 nisan. Sebanyak 5.000 nisan tersebut tertanam di lahan seluas tiga hektar. 

Menurut Franky Tuhumury, korban adalah mereka yang tertahan di kamp konsentrasi Jepang, khususnya wilayah Cimahi sekitar tahun 1941 hingga 1945. Kebanyakan tawanan Jepang yang meninggal bukan karena mati di tengah peperangan. Namun akibat kekejaman tentara Jepang pada masa itu. Banyak dari mereka meninggal lantaran kelapan dan penyiksaan. 

Baca Juga: Menguak Asal Usul Sejarah Kota Garnisun Cimahi di Jawa Barat

Para tawanan Jepang tersebut sering memakan tikus yang berada di penjara. Dikisahkan bahwa mereka juga meminum air seninya sendiri. Banyak dari mereka yang tidak kuat, kemudian meninggal sebelum akhirnya dimakamkan di Ereveld Leuwigajah

Sebelumnya, Ereveld Leuwigajah hanya terdiri dari beberapa nisan saja. Kemudian sekitar tahun 1960, semua makam orang Belanda di Indonesia dikumpulkan di pulau Jawa. Setelah muncul instruksi pemusatan tersebut, pengumpulan makam KNIL berlangsung. Beberapa di antaranya tersebar di Pulau Sumatera, Kalimantan dan pulau lainnya. Hingga kini, setidaknya ada tujuh makam orang Belanda (ereveld) yang masih aktif. 

Tujuh makam orang Belanda di Pulau Jawa tersebar di beberapa wilayah. Mulai dari Ereveld Leuwigajah Cimahi, Ereveld Menteng Pulo dan Ereveld Ancol Jakarta, Ereveld Pandu Bandung, Ereveld Kembang Kuning Surabaya serta Ereveld Kalibanteng dan Ereveld Candi Semarang. Dalam hal ini, ereveld di Cimahi tercatat sebagai jumlah makam terbanyak dari tujuh lokasi yang ada. 

Makam Tentara Kristen, Islam hingga Yahudi

Ereveld Leuwigajah terdiri dari ribuan makam dengan keterangan yang beragam. Salah satunya adalah Onbekend atau tidak dikenal yang merupakan ejaan berbahasa Belanda. Makam dengan keterangan ini berarti seorang tentara Belanda yang tidak memiliki identitas. Bisa jadi lantaran administrasi yang kurang baik. 

Selain informasi Onbekend, ada pula bentuk nisan ereveld sesuai dengan agama masing-masing. Misalnya saja, makam tentara beragama Kristen memiliki bentuk nisan berupa salib. Sementara tentara beragama lain memiliki nisan berbentuk simbol sesuai agamanya. 

Franky Tuhumury menyebutkan bahwa Ereveld Leuwigajah menjadi tempat peristirahatan dari berbagai umat beragama. Mulai dari Islam, Yahudi, Budha hingga Kristen, baik itu beragama Katolik maupun Protestan. 

Makam Arsitektur Terkenal, Thomas Karsten

Tak banyak yang tahu bahwa Ereveld Leuwigajah Cimahi menjadi tempat peristirahatan bagi tokoh Belanda yang cukup berdedikasi di Indonesia. Makam tersebut adalah milik Herman Thomas Karsten. Ia merupakan sosok arsitek asal Belanda yang mendesain tata kota Semarang dan Cimahi. Tercatat, Karsten juga menjadi seorang lektor di Institut Teknologi Bandung jurusan Planologi. 

Dalam sejarahnya, Karsten meninggal pada tahun 1945 ketika berada di kamp Konsentrasi Kota Cimahi. Ia kemudian menjadi tawanan penjajah Jepang. Di tempat itulah Karsten menghembuskan nafas terakhirnya. 

Pengibaran Bendera Setiap Tanggal 15 Agustus

Di area taman Ereveld Leuwigajah, terdapat satu tugu dengan satu tiang bendera. Pada waktu tertentu, tugu tersebut berguna untuk mengibarkan bendera Belanda setengah tiang. Pengibaran berlangsung setiap tanggal 4 Mei dan 15 Agustus untuk memperingati terjadinya Perang Dunia Kedua. 

Baca Juga: Melihat Bukti Peninggalan Belanda di Cipaku Ciamis

Ereveld Leuwigajah Cimahi masih sering dikunjungi oleh beberapa warga Belanda untuk berziarah. Kebanyakan dari mereka sudah berusia lanjut atau sepuh. Mereka datang untuk mengenang keluarga maupun kerabat yang dimakamkan di Ereveld Leuwigajah Cimahi. (R10/HR-Online)

Read Entire Article
Perayaan | Berita Rakyat | | |